Di Bawah Langit Jakarta (Part II)


 
Masih di bawah langit yang sama dan di dalam taksi yang sama.....

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 
Sudah lebih satu tahun hari itu saya lewati, tapi belum juga cerita ini pergi dari kubikel-kubikel memori.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 
Saya sudah menaiki puluhan bahkan mungkin ratusan taksi, tapi tidak ada yang sespesial hari itu. Saya lanjut saja bercerita dengan supir taksi yang saya ceritakan sebelumnya. Obrolan kami bukan sekedar obrolan ringan pemecah keheningan, ada banyak hal yang kami sampaikan. Dari soal pemilihan rute yang cerdas, hingga politik yang tak juga akrab di mata manusia-manusia macam kami.
Kemudian, telepon sang supir berdering. Ia bahkan meminta izin kepada saya untuk sekedar mengangkat teleponnya. 
Tiba-tiba suaranya hampir terbata-bata penuh kecemasan.  Telepon ditutup kembali. 
Dia tetap melajukan taksinya meski seperti ada banyak cerita dari matanya yang saya lihat dari kaca spion tengah dari bangku penumpang di belakang. 

Jalanan macet saat itu, seperti biasa, saya terpaksa duduk semakin lama di bangku penumpang. Telepon supir berdering lagi. Kali ini suaranya penuh instruksi. "Jual ini, jual itu....." . 

Saya tak berniat menanyakan apa yang terjadi. Terlalu personal buat sang supir, dan terlalu melampaui batas buat seorang penumpang. 
Tiba-tiba, taksi bergoyang hampir kehilangan arah. Tidak terlalu bahaya, meski hampir membuat seluruh jantung saya meluruh karena terkejutnya.
Si supir lantas meminta maaf, dan seketika membuatnya menceritakan telepon yang baru ia terima yang membuat kendali otaknya tak lagi di setir taksi.
"Sang supir sudah 10 tahun menikah, atau mungkin lebih, tapi kini akhirnya dia sedang menunggu kelahiran anak pertamanya yang sedang dikandung istrinya yang ia tinggalkan di kota Lampung. Dari sekian lama penantian yang mungkin menjadi yang paling diharapkannya terjadi, telepon tadi berdering. Adik istrinya menelepon mengabarkan bahwa istrinya terjatuh di kamar mandi, sekarang sedang di rumah sakit. Rumah sakit tidak mau melakukan tindakan lebih lanjut jika administrasi tidak segera dibayar."
Telepon berdering lagi, kali ini suaranya memelas. Mengabarkan bahwa ia akan segera pulang. Menyebutkan seluruh nominal yang ia punya saat ini. 200ribu itupun dengan niat menjual handphone yang kini sedang ia gunakan.
200ribu untuk dikirimkan secepatnya ke rumah sakit. Menyelamatkan nyawa kecil yang sudah dinanti 10 tahun, memastikan bahwa pendampingnya yang menemani hidupnya dalam penantiannya nyawa kecil itu pun terselamatkan.
Apa yang bisa kamu pikirkan dengan uang dua ratus ribu dan biaya rumah sakit. Saya paham betul, dua ratus ribu hanya cukup untuk membayar dokter dalam sekali tatapan mata, dan berlaku hampir di mana saja di negara ini.

Suara nya semakin merendah, mungkin tak enak karena menyadari ada penumpang yang harus tetap ia antarkan sampai tujuan. Saya tak begitu ingat bagaimana detail dialognya di telepon, tapi saya pastikan bahwa saya menahan banyak air mata dalam hati. "Sekarang kakak punya 200 ribu untuk dikirim kalo handphone ini sudah dijual dulu, dikantong ada beberapa puluh ribu"

Saat itu saya sedang menuju perjalanan ke sebuah pusat perbelanjaan ditengah kota jakarta yang mengelilingi bundaran hotel indonesia. Saya berniat membuang kebosanan dengan jalan-jalan sendirian. 
Lalu Tuhan menaruh saya di dalam taksi ini. Saya merasa bersalah pada banyak kesedihan yang sedang saya dengar dan saksikan. Saya pun tak bisa berbuat banyak.

Sang supir menyebutkan semua nominal yang ia punya saat ini untuk menolong nyawa kecil dan ibunya yang ia cintai, pasti dengan sangat.

Ia berusaha tetap tenang walau banyak kesedihan yang hampir tumpah dimatanya, menanyakan saya hendak diturunkan disisi sebelah mana. Ia meminta maaf kembali atas kecerobohannya tadi dan semua cerita yang terdengar oleh saya.

Akhirnya saya sampai juga. Supir tadi segera menyiapkan kembalian melirik uang yang akan saya keluarkan. Dalam saat-saat seperti inipun  ia berusaha tetap profesional dalam pekerjaannya. Hampir semua supir taksi yang saya naiki selama ini tak mengenal istilah kembalian. Hampir semua supir taksi dengan cueknya memotong uang kembalian dan bahkan membulatkan semua nominal argo tanpa meminta keihklasan dari penumpang. Dan saya tau sejak awal menaiki taksi ini. Sang supir berbeda. Ia bekerja dengan sangat profesionalnya bahkan dalam keadaan yang bahkan tidak bisa saya bayangkan jika saya berada di posisinya.

Ia bingung menerima uang yang saya berikan. Menanyakan berkali-kali apakah saya salah menghitung uang. Matanya langsung berkaca-kaca, padahal saya tahu bahwa apa yang saya berikan bukanlah apa-apa Tidak akan mampu membantu menghilangkan semua kesedihannya hari ini. Hanya sekedar menebus keangkuhan rencana saya hari ini. Berkali-kali lagi ia mengucapkan terimakasih. Saya keluar dari taksi masih dengan sedih. Rasanya saya ingin langsung pulang, memeluk ibu saya dan bercerita bagaimana Tuhan mengingatkan saya untuk bersyukur hari itu, bagaimana Tuhan menyindir saya untuk sekedar berbagi :')

When You Feel Like "Nothing"

"Manusia kerap mengecilkan hidup orang lain"

Iya, ini yang sering saya sebut-sebut dalam diri saya. Manusia kerap mengecilkan hidup orang lain. Ketika kebahagiaan sepele org lain yang mereka anggap terlalu dilebih-lebihkan, atau ketika kesedihan kecil yang mereka rasa terlalu ditangisi. Seakan mereka tau standard apa yang harus digunakan setiap orang untuk mengukur kebahagiaan dan kesedihan masing-masing.

And then, what if it is you, yourself, who drag yourself down?
Seperti tengah mengecilkan hidup saya sendiri.

Memiliki pertemanan yang baik adalah apa yang kerap sekali saya banggakan dalam hidup saya meski saya tak punya banyak. Setiap kali saya dikecewakan oleh lingkungan baru yang tidak menerima sepenuh kekurangan saya, maka saya kerap berkata dalam diri bahwa setidaknya kamu masih memiliki seseorang yang bersedia kamu bangunkan ditengah malam, bersedia menyambut kamu penuh sukacita ketika tiba saatnya kamu pulang, atau seketika rela bertanya kabar ketika kamu lupa menanyakan kabar pada dirimu sendiri.

Memiliki pendidikan dan pekerjaan yang baik juga adalah apa yang sering saya bisikkan pada diri saya sendiri. Merasa bangga dan cukup dengan apa yang sudah saya peroleh sejauh ini. Merasa bahwa tak banyak orang bisa merasakan kebanggaan yang kadang terlalu meninggikan hati. Hingga kadang saya lupa bahwa saya masih jauh dari sempurna, bahwa saya masih masuk dalam deretan orang-orang yang tidak memberi dampak apa-apa bagi lingkungannya.

Memiliki seseorang yang selalu siap berada di sisi membuat saya selalu merasa tercukupi. Ia yang bersedia menebalkan telinga atas setiap cerita-cerita bodoh yang kadang terlalu sering diulang-ulang lagi. Seseorang yang rela menempuh kilometer-kilometer pemisah hanya untuk datang, memastikan bahwa kamu menerima kue manis saat ulangtahun. Dan seseorang yang memastikan bahwa setidaknya kamu layak dicintai. Hingga kadang saya lupa, bahwa ia pun punya hidupnya sendiri. Bahwa dunianya masih belum duniamu hingga saat ini. Bahwa setiap manusiapun butuh waktu sejenak untuk kembali meyakinkan diri melangkah lebih jauh lagi.

Dan apapun yang saya miliki saat ini kerap membuat saya lupa, bahwa pada akhirnya kamu sesekali harus menyadari banyak hal. Menerima beberapa kenyataan. Dan mengakui banyak ketiadaan.

Saya mulai belajar untuk sadar agar tidak membesar-besarkan hidup saya sendiri. Merasa bahwa saya cukup spesial hingga saya terlampau membesar-besarkan nya sendiri.
Saat ini mungkin saja saya sedang mengecil-ngecilkan hidup saya yang kecil. Meremeh-temehkan diri saya sendiri.
Padahal tidak. Saya sedang memposisikan diri saya dalam posisi yang sesungguhnya. Menaruh diri saya agar tidak duduk terlalu tinggi. Mengukur senyum agar tak terlalu lebar. Agar mampu menyusun hati hingga tak terlalu berantakan.

"When you feel like nothing"

Ada banyak hal dalam hidup yang dapat seketika menyadarkan banyak hal pula.
Mungkin saya berusaha untuk tidak pernah mengecilkan hidup orang lain, meremeh temehkan segala jenis kebahagiaan atau kesedihan yang tengah mereka genggam. Tapi saya lupa, kadang saya terlalu membesar-besarkan diri saya. Menganggap bahwa setiap jenis kebahagian yang saya miliki tak pernah punya batas. Menganggap bahwa setiap kesedihan yang sedang saya alami berhak punya arti di hidup manusia-manusia lain. Menganggap bahwa segala jenis yang saya miliki adalah jenis kesempurnaan yang patut saya banggakan.

Hingga akhirnya saya hidup dalam rangkaian anggapan-anggapan. Yang saya bangun sendiri.

"When you feel like nothing"

Mungkin ketika kamu merasa bahwa nyatanya kamu bukan apa-apa. bukan siapa-siapa. Saat itulah kamu akan mampu mengisi ruang-ruang yang sudah dikosongkan dari anggapan menjadi kesungguhan kebenaran. Bukankah gelas yang kosong jadi lebih mudah menerima kebahagian-kebahagiaan lagi?

Semoga kita selalu berbahagia dengan wajar semoga kita tak lupa mengosongkan hati dari anggapan agar tak terlalu berat membawa beban.


Di Bawah Langit Jakarta (Part I)




*Jakarta Ramaaiiii~ Hati ku sepi~


Selamat datang di kota Jakarta! Kota megah yang siap menyambutmu hangat dengan gemerlap lampu gedung tinggi dan soroton tajam dari berbagai jenis kendaraan.
Kamu sekarang tepat berada di bawah langit Jakarta yang kadang terlalu mendung atau mungkin terlalu terik.
Ketika datang ke kota ini, saya tahu bahwa ada banyak kesedihan di bawah langit yang tampak abu. Ada banyak muka-muka (terlalu) lelah penuh masalah, dan ada banyak rindu dari setiap mata-mata sendu.
Saya percaya bahwa di bawah langit manapun kamu berada, maka masalah akan selalu tetap ada. Tapi disini berbeda. Mungkin salahkan saja saya yang memilih lingkungan yang salah dimana terlalu banyak hal-hal menyedihkan yang mengibakan hati saya.

Jakarta adalah pusat kota, maka tak salah jika semua jenis perkara dapat berpusat disini. Kamu tak boleh mengakrabi kata lelah jika ingin terus bertahan di  sini.
Dalam terangnya lampu, dan sirnanya cahaya matahari masih banyak orang-orang yang masih mencari bekal hidup minggu ini, atau mungkin baru saja pulang melewati sekian banyak tiang listrik karena jauhnya perjalanan sampai ke rumah mereka yang jauh dan tidak terlalu besar.
Esoknya sebelum ayam bahkan membangunkan banyak orang, bahkan sebelum muadzin sempat menepuk-nepuk microphone untuk mulai berkumandang, sebagian manusia yang lain yang mungkin baru saja beristirahat sudah kembali berada di pintu masuk stasiun kereta, kembali soal perihal yang sama. Setiap harinya. Inilah Jakarta, kawan. Tak boleh ada kata lelah. Jika lelah maka pulang saja. Jangan kembali mengais setiap sen di bawah langit kota ini.
Saya masih sedikit beruntung, bisa bangun lebih siang meski dengan membayar lebih.

Suatu ketika, saya pulang, menggerutui kota kesepian ini. Suatu ketika saya pulang, melihat sebuah senyum dengan penuh semangat melewati lorong di depan hadapan saya. Saya yakin, laki-laki tua ini lebih tua dari kakek saya sendiri. Saya yakin dua kotak kayu yang dibawanya jauh lebih berat daripada tas ransel isi dompet dan pulpen milik saya. Seketika dia berhenti, menghapus keringatnya. Seketika dia berhenti, kembali menyulam rejeki dari sepatu-sepatu rusak yang disodorkan kepadanya.
"If only you could step in my shoes", pasti Bapak tua paham betul istilah ini :)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, saya yang bosan berencana pergi ke tempat dimana orang-orang bahagia, baik nyata atau tidak, berkumpul. Sebagian tersenyum membawa paper bag merk mahal, sebagian lagi tertawa dengan satu cangkir kopi di hadapan mereka, dan yang lainnya saling bercerita di tempat makan yang setiap bentuk pelayanannya bernilai 5% atau lebih dari total pembayaran dengan pajak 10% sebagai bentuk kewajiban.

Iya, saya kesini untuk memastikan bahwa sayapun bagian dari orang-orang yang berbahagia ini. Saya bagian dari komunitas mereka, nyata atau tidak.

Saya menunggu taksi di pinggir jalan lamaaaa sekaliii.... Semua taksi sudah punya tujuan dari beberepa orang dikursi belakangnya.
Taksi kosong yang lewat tak banyak saya kenal namanya. Entah siapa yang ingin naik taksi mereka jika tidak terpaksa. Entah berapa rupiah yang akhirnya bisa dibawa mereka ke rumah jika semua orang seperti saya.
:(

Akhirnya taksi biru  tak berpenumpang lewat di hadapan saya. Saya tidak akan pernah lupa hari itu.
Sang supir menyapa saya dengan ramah menanyakan arah tujuan saya dan menawarkan rute pilihannya.
Alkisah, dia baru saja melewati rute lain yang tak kalah macetnya berpenumpang laki-laki asing dari negeri lain, tepat sebelum saya. Laki-laki asing tadi ternyata tak hentinya menggerutui Indonesia, nyaris menghinakan, hanya soal macet yang setiap hari nyatanya memang harus kita hadapi. Si supir bercerita bagaimana dia menenangkan penumpangnya sekaligus membela negaranya. Satu kesan yang saya tangkap, Supir taksi yang sedang bercerita dan membawa saya ke tempat yang saya tuju ini sangat menguasai bahasa inggris. Pilihan kata yang yang ia pilihpun tidak main-main. Bahasa indonengsia yang dia gunakan pun punya tingkat kesopanan luar biasa. Saya yakin bapak inii berpendidikan tinggi dan berakhir menjadi seorang supir taksi sebagai pekerjaan utamanya.

Masih dibawah langit yang sama dan di dalam taksi yang sama.............. 
(continue to next part)

Satu Paket "Kehidupan"


Pada akhirnya setiap orang punya masalah hidupnya masing-masing.
Sebab setiap kebahagiaan selalu datang satu paket dengan beberapa hal yang harus dengan bijak disyukuri.

Setiap kebahagiaan punya sisi berbeda yang tidak semua bisa dilihat oleh banyak orang.
Mungkin saja hari ini saya tengah iri pada pekerjaan bagus dari seorang teman. Membanding-bandingkan hidupnya dan hidup yang tengah saya jalani. Merasa bahwa Tuhan tidak cukup adil membagi-bagi kebahagiaannya pada sebagian orang pilihan.
Tentu saja saya salah. And for seriously, saya tidak pernah menganggap Tuhan tidak adil. Kalimat diatas hanya pengandaian.

Saya sekrang sedang mencoba menulis lagi setelah sekian lama melupakan frase-frase yang tidak dapat saya temukan dalam ketukan keyboard dari meja kerja saya yang sibuk.

Saya tahu bahwa mungkin seseorang tengah menyaksikan hidup saya dari apa yang sedikit saya bagi, berandai kalo mereka berada di posisi saya ketika saya pun tengah berandai di posisi mereka.
Menyaksikan mereka yang masih sangat bahagia hidup, memiliki gaji yang cukup tanpa perlu membaginya dengan sebagian penjarah gaji di ibukota bernama " ibu kost" atau harga taksi yang semakin mahal karena setiap kilometernya terhenti oleh deretan mobil yang menyesaki jalanan. Berebut mendapatkannya landasan roda di jalanan yang pajaknya dibayar oleh setiap sen yang juga dipotong dari gaji setiap bulannya. Setiap hal dihitung per-rupiahnya. Setiap orang menghitung untung dan rugi. Dan setiap waktu yang dihabiskan punya biayanya sendiri.

Saya tahu bahwa hidup tidak pernah memberi sesuatu tanpa paket lengkapnya.
Karena setiap kelebihan diberikan untuk menutupi banyak kekurangan disisi lain.
Karena kekurangan disajikan hanya saat kelebihan lain telah, sedang atau akan disiapkan.
Karena hidup akan selalu cukup. Dan karena Tuhan akan selalu Adil.

Hei, Teman :)


Hai teman, kau tentu saja pernah penasaran bagaimana kelak kau akan dikenang.
Maka izinkan saya menulis sedikit kabar dari sini, bagaimana kami menceritakanmu kembali..

Tak ada makhluk yang tercipta sempurna, begitupun dengan kami dan dirimu.
Kita hanya sekumpulan manusia biasa yang tanpa sengaja dipertemukan lalu dikenalkan dan dijadikan sebagai teman.
Kita, kami dan dirimu, memang tidak sempurna, tapi ada yang sedikit berbeda dari caramu memandang sesuatu.
Kita, kami dan dirimu, memang tidak sempurna, tapi entah bagaimana caranya hingga kau selalu punya cara memilih bagian dari diri kami yang bisa kau puji.
Entah itu hanya perihal cara berpakaian, prinsip ala kadar yang kami pegang, atau hanya soal pipi merah yang bisa seketika merona. Kau selalu punya alasan untuk memuji.
Dan kami akhirnya selalu punya alasan hari ini untuk disyukuri dari pujian yang kau beri.

Kita, kami dan dirimu, punya masalah masing-masing.
Tentu saja  kami selalu sibuk dan kadang terlalu sibuk dengan masalah kami sendiri.
Tapi entah mengapa, kau selalu punya banyak waktu menawarkan bantuan diantara sekian banyak masalahmu yang bahkan jarang sekali kau ceritakan.
Kami, oke saya, selalu jadi salah satu teman yang kau tawarkan bantuan, meski kadang lalu saya sibuk dengan masalah saya sendiri.
"Kau punya seribu tangan untuk membantu dan satu mulut bisu untuk mengeluh."

Bagaimana caranya memberikan perhatian? Kami selayaknya bertanya kepadamu dulu.
Kita, kami dan dirimu, dikenalkan tidak pada masa yang haus perhatian.
Kita, kami dan dirimu, sedang belajar menjadi dewasa dan mengurusi hidup masing-masing. Tapi tidak denganmu. Bagimu, setiap pelik yang kami hadapi adalah kekhawatiran yang patut kau urusi. Boleh jadi kau hanya bertanya sudahkah kami makan, atau apakah kami benar-benar bisa hidup hari ini...

Ini kabar dari sini, teman. :)
Kini kami harus belajar mensyukuri setiap hal yang kami miliki, karena tak ada lagi si pemuji yang mengingatkan kami perihal ini.
Kini tak ada yang tanpa diminta rela menawarkan tangan, merangkul kami yang bahkan tak sempat menceritakan kesusahan.
Kini kami kehilangan yang selalu tau cara membagi perhatian. Selalu hadir membawa kekhawatiran sebagai bentuk pelukan hangat seorang teman..

Kami mengenangmu dengan baik teman. Kami mengenang semua hal baik dari mu. Hanya kebaikan yang kini jadi sisa kenangan.
Terimakasih karena mngajarkan kami banyak hal, banyak hal yang tidak semua teman dapat ajarkan kepada kami.

Tenang dan tersenyumlah dari sana. Bukan kah sekarang kau menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Sampaikan salam kami pada-Nya, akan kami kirimi kau surat dalam doa sebagai bentuk kabar penuh cinta.

-with love to our lovely friend, Yeni Masitoh-
:)




Surat Untuk Ramadhan

*has been written on 12th of July 2015, 25th of Ramadhan 1436 H*

Hai Ramadhan, terimakasih karena masih mengizinkan aku mampir dan berteduh dari segala jenis hujan dan gemuruh bulan lalu.
Kau selalu saja penuh kejutan setiap tahunnya, menghadiahkan aku yang bukan apa-apa berbagai cerita perihal mendekatkan diri dengan yang Maha Kuasa.
Hari ini sudah hampir 25 hari sejak hilal mu membawa kegembiraan segenap umat, menyambutmu dengan segala peluk hangat.
Tahun ini, aku sendiri lagi seperti tahun lalu. Karena tanpa hitungan ayah dan ibu aku masih menghitungnya sebagai sendirian. Aku tetap patut mensyukuri semuanya, bisa bangun sahur tanpa ada yang harus nyaris marah, atau sekedar memilih buka puasa sendiri sambil menyusuri jalanan yang penuh jajanan.
Nyaris setiap akhir minggu, aku punya kesempatan bertemu dengan beberapa teman lama. Berjumpa dan kembali mengisahkan perihal kebodohan jaman dulu. Yah meski tak banyak teman yang bisa diajak berbagi cerita disini.

Hai ramadhan, satu hari mu kuambil untuk pergi jauh dari pusat kota, menuju sebuah rumah teman kerja.
Jauh kami menaiki kereta yang padat dengan berbagai wajah. Tapi perjuangan kami tak sia-sia.
Kami disambut hangat oleh sebuh keluarga, yang meski berbeda keyakinan, bersedia menyajikan sebuah rasa tentang berbuka puasa bersama keluarga. Terimakasih paramitha :)

Ada satu juga yang tak akan aku lupa, bahwa ramadhan kali ini masih saja diganggu gerimis sisa bulan lalu. Aaah, tapi bukankah kita jadi punya banyak waktu untuk menyadari bahwa Allah pun Maha Pencemburu :")

Hai ramadhan, tak terasa bahwa sebentar lagi kau akan pergi lagi, meninggalkan aku yang masih kebingungan mengisi pundi-pundi amalan yang belum juga penuh. Yang masih bersedih karena tak mampu jadi lebih baik dari saat aku mampir tahun lalu.
Aku akan melangkah lagi menyusuri waktu, dan izinkan aku kembali  lagi nanti. Meyakinkan bahwa tahun depan kau akan aku sambut dengan lebih siap, dengan hati yang jauh lebih dekat.
Ramadhan, izinkan aku membawa semua perihal baik yang aku petik dari taman rumahmu kali ini, sebagai bekal agar aku mampu menyusuri waktu, mendekatkan diri pada yang Maha Pengasih sampai tiba lagi berjumpa denganmu.

When Your Inner Circle "Leave" You

*menulis di sela-sela jam kerja itu menyebalkan, apalagi kamu tau bahwa kaca-kaca di kornea bisa saja pecah jadi buliran air di sudut mata*

Dua ribu lima belas  dimulai dengan berdatangannya undangan dari teman-teman lama maupun teman-teman baru. Tapi semua tidak pernah jadi masalah, ditinggalkan mereka bukan masalah besar.  Kabar-kabar bahagia dari mereka tidak pernah memaksa saya berpikir panjang tentang bagaimana kehidupaan saya ke depannya. Saya turut berbahagia kepada teman-teman yang pada akhirnya menemukan belahan hati mereka, dan berjanji menua bersama.

But, it's different case, dude. It's when your closest inner circle finally said that she finally found her man.

Saya menyebutnya innercircle, my closest inner circle. Lingkaran terdekat dari kehidupan pertemanan saya. Dimana saya yang punya kekuasaan penuh untuk memperbesar atau memperkecil nilai "r" atas kedekatan saya terhadap mereka.
Boleh jadi teman-teman saya yang lain mengabarkan kabar yang jauh lebih dini dari ini, tp itu tidak pernah berpengaruh banyak. Jarak "r" mereka membuatnya tidak pernah menyentuh bagian rapuh dalam diri saya. *aelah*

Tiba-tiba hati saya sedih. Saya merasa bersalah atas kesedihan yang saya rasakan di atas kebahagiaan teman terbaik saya.
Saya tidak pernah tahu, rasa sedih ini datangnya dari mana.
Saya seperti ketakutan akan kehilangan sesuatu.
Seperti akan ditinggalkan sendiri. hahaha *lebay



 Menjadi saksi dan menyaksikan sebagian dari hidup seorang teman baik ternyata berpengaruh banyak terhadap apa yang saya rasakan saat itu.
Iya, saat itu.
Saya kini sepenuhnya bahagia atas kabar baik yang disampaikan pada saya :)
Yeeeeey!! :D

Selamat menua sendiri hari ini, dan Selamat atas rencana untuk segera berjanji menua bersamanya.

Sekarang saya sepenuhnya memahami dan meyakini bahwa saya tidak pernah ditinggalkan dalam hal apapun.
Kita berputar atas poros kita sendiri. Kita punya jalan, cara, dan waktu masing-masing.
Dalam lingkaran milik saya sendiri, saya menyaksikan lingkaran-lingkaran lain yang saya beri jarak masing-masing berputar dalam masing-masing putarannya. Dan kehidupan memiliki kebebasan penuh atas putarannya sendiri.

Ahhhhh,,,, saya akan segera menyaksikan "most waiting bride tobe" setelah banyak drama yang "ehhm" dilalui.hahahha
Selamaaaaaaat menyiapkan segalanya.

I'll be still your best no matter how many kids will you have, or how old your kids will be. :D


I know, today will not be your best day, because you're waiting for bigger day this year. :D
Selamat menanti Hari terbahagia dengan segala macam pernak perniknya.

*doakan sayapun* eeehhhhhh... *santai ah* hahahha

:p







Hong Kong, Desember 2014


Dulu, kita boleh saja mengeluhkan perihal jarak yang tak dapat ditempuh hanya dengan sekali kayuh.

Kini kita diberi kesempatan yang berbeda lagi.

Kita boleh saja berbeda dalam cuaca yang ekstrim berbeda
Berada disekeliling orang yang bahkan bahasanya tak sama
Menjelajahi tiap sudut kota dengan dikibari bendera yang warnanya tak serupa.

Dan aku mulai kelu untuk menuliskan apa yang ada di isi kepala. *as always*

Ini pertama kalinya kita berada dalam jarak terjauh dalam satuan kilometer
Tapi sungguh, selama suara dan pesan masih bisa disampaikan, melewati banyak teknologi dan kemudahan, maka ini masih mampu mengalahkan beberapa meter biasa yang dibatasi banyak aturan atau bahkan hanya perihal signal yang tak terjangkau.

Ini pertama kalinya, dan jika memang akan tiba masanya, maka bersiaplah untuk sesi lanjutan yang sampai saat ini belum bisa saya prediksi akan berapa kilometer lagi. Mungkin hanya dalam skala jari dalam peta besar dunia, hanya melewati beberapa sungai kecil, atau mungkin saja lebih dari beberapa jengkal dalam perbandingan angka yang jauh lebih besar.

Bukan membanggakan jauhnya perjalanan yang mungkin saya atau kamu akan tempuh,
Ini hanya akan menjadi penggalan kecil dalam sejarah yang akan kita ukir.
*as I wish*
:')

-Hong Kong, December 2014, 11'C-

Terjebak Masa Depan


"Nanti kamu mau kerja dimana?"

"Hahahahhaa, aku nanti kerjanya di luar negeri dong yah!"


Itu tadi percakapan kecil saya dan ayah saya sepanjang perjalanan beliau mengantar saya sekolah sampai kuliah. Iya, saya dan ayah bercerita selalu banyak hal, meski mendengar di antara lalu lalang jalanan yang ramai itu tidak mudah, apalagi tidak ada kaca mobil yang bisa menghalangi suara dari luar. Saya duduk manis saja, sambil ayah menyetir motornya :D
Ini salah satu pertanyaan favorit ayah ketika mengantar atau menjemput saya sekolah, dan ayah pasti sudah bosan mendengar saya yang duduk dibelakangnya tertawa dan menjawab hal yang sama berulang kali tanpa editing dan improvisasi lain. Jawaban saya sama.

Ternyata ada banyak mailakat yang mengiringi perjalanan saya dan ayah dari rumah ke sekolah, lalu pulang dari sekolah ke rumah, beranjak dari rumah ke kampus, kampus ke rumah. Mereka mungkin sudah bosan mendengar jawaban saya yang sama, hingga akhirnya saya terjebak juga di sini. Kementerian Luar Negeri.  *Yah, at least, langkah awalnya adalah kata-kata luar negeri* hahaha

Tahun ini di awali dengan penuh kejutan. Saya benar-benar tak bisa habisnya bersyukur. Malam tahun baru lalu, menuju ke tahun ini, 2014, saya akhirnya menerima pengumuman terakhirnya juga. Setelah melewati proses rekrutmen yang sangaaaaaaaaat panjaaaaaang dan melelahkan. Tidak kurang dari 7 test yang harus saya jalani hingga akhirnya sampai di sini. Tidak mudah bagi saya yang tidak tinggal di jakarta tapi harus bolak balik menjalani serangkaian testnya di sini.
 Beruntung saya masih di bandung saat itu. Tidak terlalu jauh meski saya harus pergi sendirian.. Beruntung karena tante teman saya yang mau mengantar saya dan teman saya untuk test yang pertama kalinya. Saya sangat berterimakasih.
Beruntung karena setelahnya ada teman baik juga yang mau saya repotkan karena menginap di sana selama hampir sepanjang test-test berikutnya.

Hingga akhirnya saya berada juga di sini. Masih ada sisa 4 bulan dari 8 bulan yang panjang sampai saya benar-benar berada di dunia kerja ini. Masa diklat ini tentu harusnya menyenangkan. Iya semua heran jika mereka bertanya kenapa begitu panjang masa ini harus dilewati. Karena berada di sini tidak akan begitu mudah.
Ada banyak dunia luar yang belum kami khususnya saya tau. Ada banyak materi yang harus saya ulang lagi, dan akan banyak konsekuensi yang harus saya jalani sepanjang hidup saya di sini.


Seperti terjebak masa depan.

Saya tidak akan mengeluhkan apapun disini. Karena memang saya tak pantas melakukannya.
Puluhan ribu orang tahun lalu berdoa agar bisa disini, 3000an diantaranya memohon satu kursi yang sama yang sedang saya duduki sekarang dari hanya 13 kursi yang diberikan.
Salah satu kursi langka yang tidak "Diperjualbelikan" di negeri ini.

Iya, seperti terjebak masa depan.

Ini jebakan paling manis dalam hidup saya.
Dunia tidak lagi sebundar globe yang saya lihat di sekolah dulu.
Bumi tidak lagi mengelilingi matahari seperti pelajaran yang saya dapat dulu.
Dan ketika melihat peta dunia, saya tidak lagi mencari daratan eropa lalu menemukan kota paris dan tersenyum seperti yang dilakukan saya dulu.

Dunia sekarang seperti hamparan luas padang rumput, setiap negara adalah herbivora lapar yang sedang digembalakan pemimpinnya.
Tidak lagi bicara soal bumi, tapi Indonesia yang dikelilingi bangsa lain. Bagaimana berada di belahan bumi lain dan tetap menjadi Indonesia. Bagaimana mengelilingi bagian dunia lain, lalu kembali ke titik paling indah dari bagian bumi ini, Menetap kembali, lalu ditugaskan kembali dalam hitungan tahun.

Ketika melihat peta dunia, saya hanya berandai di titik mana saya kelak, lalu mencari di titik mana orang-rang yang saya cintai berada. Lalu saya akan tersenyum membayangkan mereka akan bisa berada selalu di sisi saya. :)

Tapi saya akan masih tetap dan memang harus tetap merasa bersyukur. Sekarang saya juga harus mensyukuri resiko yang datang satu paket dengan kebahagian-kebahagiaan ini. Semoga Allah senantiasa memudahkan semuanya, memberi jalan terindahnya :)

Tidak ada yang perlu saya takutkan, Allah memilih saya karena bahkan Ia yakin saya mampu melaluinya. Allah pasti menyiapkan skenario paling indah dalam jebakan masa depan saya :)

Terimakasih Bandung :)

"Apapun yang telah terjadi di sini, Terimakasih Bandung!"




Hari ini jadi hari terakhir saya di Bandung, akan lama sekali sampai nanti saya kembali lagi ke sini. Saya sudah berkemas, bersiap pindah, bersiap kembali ke rumah.

Atas semua yang telah terjadi di sini, baik ataupun buruk, saya merasa patut berterimakasih.... :")


It's amazing to be here.... For Sure!

Terimakasih dari semua terimakasih paling tulus tentu saja milik sang Maha Kuasa yang atas kuasa-Nya menaruh saya di sini. Ini salah satu rencana-Nya yang paling indah :")

Terimakasih Bandung!
Terimakasih sudah menjadi tempat mimpi saya berlabuh

Terimakasih telah mengajarkan bagaimana merindukan rumah
Mengajarkan bahwa sarapan di meja makan bersama ayah dan ibu adalah salah satu hal indah yang tidak saya dapatkan di sini.

Terimakasih telah mengingatkan saya yang kadang lupa bahwa ayah dan ibu betapa cintanya kepada saya

Terimakasih karena saya belajar menyusun rindu dari jarak yang dibentangkan pada orang yang mencintai dan saya cintai.

Terimakasih karena telah mengajarkan bagaimana menghapus airmata sendiri, menyimpannya, lalu kembali berdiri dan berlari atas apa yang diinginkan.
 Mengajarkan saya memilih, apa yang iya dan tidak, apa yang harus dan jangan.
Mengajarkan bahwa kehilangan dan kesakitan adalah bagian dari hidup, bagian dari hidup yang juga harus disyukuri atas segala hikmah yang diajarkannnya

Terimakasih karena memberikan banyak kejutan-kejutan manis di sini, saya mengingat semuanya, yah ada kamu juga di memori itu :")

Terimakasih Bandung!

Terimakasih ayah dan ibu yang tak pernah saya duga bisa mengizinkan saya jauh di sini.
Terimakasih kamu yang tak luput memberi cerita disini.
Terimakasih roomate tercinta yang menemani hari-hari saya, menceritakan banyak hal, dan menertawakan juga banyak hal.
Terimakasih semua teman-teman satu angkatan. Kalian orang-orang mengagumkan yang saya bisa kenal.
Terimakasih kampus tua bebatuan, saya benar-benar jatuh cinta pada kampus ini dan segala isinya.



Buscar

Memuat...
 

CataTan awaN PutiH

Terlanjur jatuh cinta pada awan

yang menutupi birunya langit,
membuat siang menjadi menyenangkan
...dan memberi banyak inspirasi...

About

Catatan Awan Putih Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger