Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan

Maka bagaimana kelak kamu akan dikenang?

 

Menghabiskan masa muda dengan penuh ambisi

sibuk berusaha selalu jadi nomor satu

Lalu memilih mendewasa dengan mengenyampingkan pencapaian

berusaha hanya hidup aman dan nyaman

 

Lalu bagaimana kelak kamu akan dikenang

menghabiskan masa muda dengan penuh perhitungan

setiap waktu adalah berharga dan pertemanan yang mendayu-dayu tak pernah jadi pilihan

tak pernah memilih meromantisasi kehidupan sebagai upaya balas budi dan pembuktian pada merka yang sibuk mencari celah pada setiap usaha yang dilakukan

 

Lalu bagaimana kamu akan dikenang?

Mungkin sebagian hanya akan mengingat nama tapi akan lupa itu siapa,

sebagian lagi mungkin hanya mengingatknya sebagai si juara satu, yang menagis karena turun peringkat jadi lima

 

Lalu bagaimana kamu akan dikenang?

Pilihan untuk hidup nyaman hanya menghasilkan dua kata : BIASA SAJA

tak ada yang istimewa. Hanya biasa Saja, berlalu cepat atau lama pun tak mengapa.

Tak melekat pada jiwa. Hampa dan memang biasa saja.

Dear, Mom

Dear mom.
Your daughter is doing fine here.
Life is tough but you have taught me enough about how to go through this life
Dear mom,
Your little daughter is still your little daughter,
Who cries often because she is tired being alone in this big city, when she even can't find anyone who ask her how's life all day long in her room, cant find a touch which can heal better than any drugs when she is sick.
Your rebel girl is still your rebel girl,
who says aloud when something is going wrong, though she isn't always right.
Dear my mom, all of moms and all moms to be,
We wont feel so much precious in this life, if it is not you who love us first even before we met each other, it is you who tell us first to run the world without ruin other by having that kind-hearted
I love and miss you even words cant be heard from my silent lip.
We love you, but you love us more than we can give you back.

Di Bawah Langit Jakarta (Part I)




*Jakarta Ramaaiiii~ Hati ku sepi~


Selamat datang di kota Jakarta! Kota megah yang siap menyambutmu hangat dengan gemerlap lampu gedung tinggi dan soroton tajam dari berbagai jenis kendaraan.
Kamu sekarang tepat berada di bawah langit Jakarta yang kadang terlalu mendung atau mungkin terlalu terik.
Ketika datang ke kota ini, saya tahu bahwa ada banyak kesedihan di bawah langit yang tampak abu. Ada banyak muka-muka (terlalu) lelah penuh masalah, dan ada banyak rindu dari setiap mata-mata sendu.
Saya percaya bahwa di bawah langit manapun kamu berada, maka masalah akan selalu tetap ada. Tapi disini berbeda. Mungkin salahkan saja saya yang memilih lingkungan yang salah dimana terlalu banyak hal-hal menyedihkan yang mengibakan hati saya.

Jakarta adalah pusat kota, maka tak salah jika semua jenis perkara dapat berpusat disini. Kamu tak boleh mengakrabi kata lelah jika ingin terus bertahan di  sini.
Dalam terangnya lampu, dan sirnanya cahaya matahari masih banyak orang-orang yang masih mencari bekal hidup minggu ini, atau mungkin baru saja pulang melewati sekian banyak tiang listrik karena jauhnya perjalanan sampai ke rumah mereka yang jauh dan tidak terlalu besar.
Esoknya sebelum ayam bahkan membangunkan banyak orang, bahkan sebelum muadzin sempat menepuk-nepuk microphone untuk mulai berkumandang, sebagian manusia yang lain yang mungkin baru saja beristirahat sudah kembali berada di pintu masuk stasiun kereta, kembali soal perihal yang sama. Setiap harinya. Inilah Jakarta, kawan. Tak boleh ada kata lelah. Jika lelah maka pulang saja. Jangan kembali mengais setiap sen di bawah langit kota ini.
Saya masih sedikit beruntung, bisa bangun lebih siang meski dengan membayar lebih.

Suatu ketika, saya pulang, menggerutui kota kesepian ini. Suatu ketika saya pulang, melihat sebuah senyum dengan penuh semangat melewati lorong di depan hadapan saya. Saya yakin, laki-laki tua ini lebih tua dari kakek saya sendiri. Saya yakin dua kotak kayu yang dibawanya jauh lebih berat daripada tas ransel isi dompet dan pulpen milik saya. Seketika dia berhenti, menghapus keringatnya. Seketika dia berhenti, kembali menyulam rejeki dari sepatu-sepatu rusak yang disodorkan kepadanya.
"If only you could step in my shoes", pasti Bapak tua paham betul istilah ini :)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, saya yang bosan berencana pergi ke tempat dimana orang-orang bahagia, baik nyata atau tidak, berkumpul. Sebagian tersenyum membawa paper bag merk mahal, sebagian lagi tertawa dengan satu cangkir kopi di hadapan mereka, dan yang lainnya saling bercerita di tempat makan yang setiap bentuk pelayanannya bernilai 5% atau lebih dari total pembayaran dengan pajak 10% sebagai bentuk kewajiban.

Iya, saya kesini untuk memastikan bahwa sayapun bagian dari orang-orang yang berbahagia ini. Saya bagian dari komunitas mereka, nyata atau tidak.

Saya menunggu taksi di pinggir jalan lamaaaa sekaliii.... Semua taksi sudah punya tujuan dari beberepa orang dikursi belakangnya.
Taksi kosong yang lewat tak banyak saya kenal namanya. Entah siapa yang ingin naik taksi mereka jika tidak terpaksa. Entah berapa rupiah yang akhirnya bisa dibawa mereka ke rumah jika semua orang seperti saya.
:(

Akhirnya taksi biru  tak berpenumpang lewat di hadapan saya. Saya tidak akan pernah lupa hari itu.
Sang supir menyapa saya dengan ramah menanyakan arah tujuan saya dan menawarkan rute pilihannya.
Alkisah, dia baru saja melewati rute lain yang tak kalah macetnya berpenumpang laki-laki asing dari negeri lain, tepat sebelum saya. Laki-laki asing tadi ternyata tak hentinya menggerutui Indonesia, nyaris menghinakan, hanya soal macet yang setiap hari nyatanya memang harus kita hadapi. Si supir bercerita bagaimana dia menenangkan penumpangnya sekaligus membela negaranya. Satu kesan yang saya tangkap, Supir taksi yang sedang bercerita dan membawa saya ke tempat yang saya tuju ini sangat menguasai bahasa inggris. Pilihan kata yang yang ia pilihpun tidak main-main. Bahasa indonengsia yang dia gunakan pun punya tingkat kesopanan luar biasa. Saya yakin bapak inii berpendidikan tinggi dan berakhir menjadi seorang supir taksi sebagai pekerjaan utamanya.

Masih dibawah langit yang sama dan di dalam taksi yang sama.............. 
(continue to next part)

Surat Untuk Ramadhan

*has been written on 12th of July 2015, 25th of Ramadhan 1436 H*

Hai Ramadhan, terimakasih karena masih mengizinkan aku mampir dan berteduh dari segala jenis hujan dan gemuruh bulan lalu.
Kau selalu saja penuh kejutan setiap tahunnya, menghadiahkan aku yang bukan apa-apa berbagai cerita perihal mendekatkan diri dengan yang Maha Kuasa.
Hari ini sudah hampir 25 hari sejak hilal mu membawa kegembiraan segenap umat, menyambutmu dengan segala peluk hangat.
Tahun ini, aku sendiri lagi seperti tahun lalu. Karena tanpa hitungan ayah dan ibu aku masih menghitungnya sebagai sendirian. Aku tetap patut mensyukuri semuanya, bisa bangun sahur tanpa ada yang harus nyaris marah, atau sekedar memilih buka puasa sendiri sambil menyusuri jalanan yang penuh jajanan.
Nyaris setiap akhir minggu, aku punya kesempatan bertemu dengan beberapa teman lama. Berjumpa dan kembali mengisahkan perihal kebodohan jaman dulu. Yah meski tak banyak teman yang bisa diajak berbagi cerita disini.

Hai ramadhan, satu hari mu kuambil untuk pergi jauh dari pusat kota, menuju sebuah rumah teman kerja.
Jauh kami menaiki kereta yang padat dengan berbagai wajah. Tapi perjuangan kami tak sia-sia.
Kami disambut hangat oleh sebuh keluarga, yang meski berbeda keyakinan, bersedia menyajikan sebuah rasa tentang berbuka puasa bersama keluarga. Terimakasih paramitha :)

Ada satu juga yang tak akan aku lupa, bahwa ramadhan kali ini masih saja diganggu gerimis sisa bulan lalu. Aaah, tapi bukankah kita jadi punya banyak waktu untuk menyadari bahwa Allah pun Maha Pencemburu :")

Hai ramadhan, tak terasa bahwa sebentar lagi kau akan pergi lagi, meninggalkan aku yang masih kebingungan mengisi pundi-pundi amalan yang belum juga penuh. Yang masih bersedih karena tak mampu jadi lebih baik dari saat aku mampir tahun lalu.
Aku akan melangkah lagi menyusuri waktu, dan izinkan aku kembali  lagi nanti. Meyakinkan bahwa tahun depan kau akan aku sambut dengan lebih siap, dengan hati yang jauh lebih dekat.
Ramadhan, izinkan aku membawa semua perihal baik yang aku petik dari taman rumahmu kali ini, sebagai bekal agar aku mampu menyusuri waktu, mendekatkan diri pada yang Maha Pengasih sampai tiba lagi berjumpa denganmu.

When Your Inner Circle "Leave" You

*menulis di sela-sela jam kerja itu menyebalkan, apalagi kamu tau bahwa kaca-kaca di kornea bisa saja pecah jadi buliran air di sudut mata*

Dua ribu lima belas  dimulai dengan berdatangannya undangan dari teman-teman lama maupun teman-teman baru. Tapi semua tidak pernah jadi masalah, ditinggalkan mereka bukan masalah besar.  Kabar-kabar bahagia dari mereka tidak pernah memaksa saya berpikir panjang tentang bagaimana kehidupaan saya ke depannya. Saya turut berbahagia kepada teman-teman yang pada akhirnya menemukan belahan hati mereka, dan berjanji menua bersama.

But, it's different case, dude. It's when your closest inner circle finally said that she finally found her man.

Saya menyebutnya innercircle, my closest inner circle. Lingkaran terdekat dari kehidupan pertemanan saya. Dimana saya yang punya kekuasaan penuh untuk memperbesar atau memperkecil nilai "r" atas kedekatan saya terhadap mereka.
Boleh jadi teman-teman saya yang lain mengabarkan kabar yang jauh lebih dini dari ini, tp itu tidak pernah berpengaruh banyak. Jarak "r" mereka membuatnya tidak pernah menyentuh bagian rapuh dalam diri saya. *aelah*

Tiba-tiba hati saya sedih. Saya merasa bersalah atas kesedihan yang saya rasakan di atas kebahagiaan teman terbaik saya.
Saya tidak pernah tahu, rasa sedih ini datangnya dari mana.
Saya seperti ketakutan akan kehilangan sesuatu.
Seperti akan ditinggalkan sendiri. hahaha *lebay



 Menjadi saksi dan menyaksikan sebagian dari hidup seorang teman baik ternyata berpengaruh banyak terhadap apa yang saya rasakan saat itu.
Iya, saat itu.
Saya kini sepenuhnya bahagia atas kabar baik yang disampaikan pada saya :)
Yeeeeey!! :D

Selamat menua sendiri hari ini, dan Selamat atas rencana untuk segera berjanji menua bersamanya.

Sekarang saya sepenuhnya memahami dan meyakini bahwa saya tidak pernah ditinggalkan dalam hal apapun.
Kita berputar atas poros kita sendiri. Kita punya jalan, cara, dan waktu masing-masing.
Dalam lingkaran milik saya sendiri, saya menyaksikan lingkaran-lingkaran lain yang saya beri jarak masing-masing berputar dalam masing-masing putarannya. Dan kehidupan memiliki kebebasan penuh atas putarannya sendiri.

Ahhhhh,,,, saya akan segera menyaksikan "most waiting bride tobe" setelah banyak drama yang "ehhm" dilalui.hahahha
Selamaaaaaaat menyiapkan segalanya.

I'll be still your best no matter how many kids will you have, or how old your kids will be. :D


I know, today will not be your best day, because you're waiting for bigger day this year. :D
Selamat menanti Hari terbahagia dengan segala macam pernak perniknya.

*doakan sayapun* eeehhhhhh... *santai ah* hahahha

:p







Terjebak Masa Depan


"Nanti kamu mau kerja dimana?"

"Hahahahhaa, aku nanti kerjanya di luar negeri dong yah!"


Itu tadi percakapan kecil saya dan ayah saya sepanjang perjalanan beliau mengantar saya sekolah sampai kuliah. Iya, saya dan ayah bercerita selalu banyak hal, meski mendengar di antara lalu lalang jalanan yang ramai itu tidak mudah, apalagi tidak ada kaca mobil yang bisa menghalangi suara dari luar. Saya duduk manis saja, sambil ayah menyetir motornya :D
Ini salah satu pertanyaan favorit ayah ketika mengantar atau menjemput saya sekolah, dan ayah pasti sudah bosan mendengar saya yang duduk dibelakangnya tertawa dan menjawab hal yang sama berulang kali tanpa editing dan improvisasi lain. Jawaban saya sama.

Ternyata ada banyak mailakat yang mengiringi perjalanan saya dan ayah dari rumah ke sekolah, lalu pulang dari sekolah ke rumah, beranjak dari rumah ke kampus, kampus ke rumah. Mereka mungkin sudah bosan mendengar jawaban saya yang sama, hingga akhirnya saya terjebak juga di sini. Kementerian Luar Negeri.  *Yah, at least, langkah awalnya adalah kata-kata luar negeri* hahaha

Tahun ini di awali dengan penuh kejutan. Saya benar-benar tak bisa habisnya bersyukur. Malam tahun baru lalu, menuju ke tahun ini, 2014, saya akhirnya menerima pengumuman terakhirnya juga. Setelah melewati proses rekrutmen yang sangaaaaaaaaat panjaaaaaang dan melelahkan. Tidak kurang dari 7 test yang harus saya jalani hingga akhirnya sampai di sini. Tidak mudah bagi saya yang tidak tinggal di jakarta tapi harus bolak balik menjalani serangkaian testnya di sini.
 Beruntung saya masih di bandung saat itu. Tidak terlalu jauh meski saya harus pergi sendirian.. Beruntung karena tante teman saya yang mau mengantar saya dan teman saya untuk test yang pertama kalinya. Saya sangat berterimakasih.
Beruntung karena setelahnya ada teman baik juga yang mau saya repotkan karena menginap di sana selama hampir sepanjang test-test berikutnya.

Hingga akhirnya saya berada juga di sini. Masih ada sisa 4 bulan dari 8 bulan yang panjang sampai saya benar-benar berada di dunia kerja ini. Masa diklat ini tentu harusnya menyenangkan. Iya semua heran jika mereka bertanya kenapa begitu panjang masa ini harus dilewati. Karena berada di sini tidak akan begitu mudah.
Ada banyak dunia luar yang belum kami khususnya saya tau. Ada banyak materi yang harus saya ulang lagi, dan akan banyak konsekuensi yang harus saya jalani sepanjang hidup saya di sini.


Seperti terjebak masa depan.

Saya tidak akan mengeluhkan apapun disini. Karena memang saya tak pantas melakukannya.
Puluhan ribu orang tahun lalu berdoa agar bisa disini, 3000an diantaranya memohon satu kursi yang sama yang sedang saya duduki sekarang dari hanya 13 kursi yang diberikan.
Salah satu kursi langka yang tidak "Diperjualbelikan" di negeri ini.

Iya, seperti terjebak masa depan.

Ini jebakan paling manis dalam hidup saya.
Dunia tidak lagi sebundar globe yang saya lihat di sekolah dulu.
Bumi tidak lagi mengelilingi matahari seperti pelajaran yang saya dapat dulu.
Dan ketika melihat peta dunia, saya tidak lagi mencari daratan eropa lalu menemukan kota paris dan tersenyum seperti yang dilakukan saya dulu.

Dunia sekarang seperti hamparan luas padang rumput, setiap negara adalah herbivora lapar yang sedang digembalakan pemimpinnya.
Tidak lagi bicara soal bumi, tapi Indonesia yang dikelilingi bangsa lain. Bagaimana berada di belahan bumi lain dan tetap menjadi Indonesia. Bagaimana mengelilingi bagian dunia lain, lalu kembali ke titik paling indah dari bagian bumi ini, Menetap kembali, lalu ditugaskan kembali dalam hitungan tahun.

Ketika melihat peta dunia, saya hanya berandai di titik mana saya kelak, lalu mencari di titik mana orang-rang yang saya cintai berada. Lalu saya akan tersenyum membayangkan mereka akan bisa berada selalu di sisi saya. :)

Tapi saya akan masih tetap dan memang harus tetap merasa bersyukur. Sekarang saya juga harus mensyukuri resiko yang datang satu paket dengan kebahagian-kebahagiaan ini. Semoga Allah senantiasa memudahkan semuanya, memberi jalan terindahnya :)

Tidak ada yang perlu saya takutkan, Allah memilih saya karena bahkan Ia yakin saya mampu melaluinya. Allah pasti menyiapkan skenario paling indah dalam jebakan masa depan saya :)

Terimakasih Bandung :)

"Apapun yang telah terjadi di sini, Terimakasih Bandung!"




Hari ini jadi hari terakhir saya di Bandung, akan lama sekali sampai nanti saya kembali lagi ke sini. Saya sudah berkemas, bersiap pindah, bersiap kembali ke rumah.

Atas semua yang telah terjadi di sini, baik ataupun buruk, saya merasa patut berterimakasih.... :")


It's amazing to be here.... For Sure!

Terimakasih dari semua terimakasih paling tulus tentu saja milik sang Maha Kuasa yang atas kuasa-Nya menaruh saya di sini. Ini salah satu rencana-Nya yang paling indah :")

Terimakasih Bandung!
Terimakasih sudah menjadi tempat mimpi saya berlabuh

Terimakasih telah mengajarkan bagaimana merindukan rumah
Mengajarkan bahwa sarapan di meja makan bersama ayah dan ibu adalah salah satu hal indah yang tidak saya dapatkan di sini.

Terimakasih telah mengingatkan saya yang kadang lupa bahwa ayah dan ibu betapa cintanya kepada saya

Terimakasih karena saya belajar menyusun rindu dari jarak yang dibentangkan pada orang yang mencintai dan saya cintai.

Terimakasih karena telah mengajarkan bagaimana menghapus airmata sendiri, menyimpannya, lalu kembali berdiri dan berlari atas apa yang diinginkan.
 Mengajarkan saya memilih, apa yang iya dan tidak, apa yang harus dan jangan.
Mengajarkan bahwa kehilangan dan kesakitan adalah bagian dari hidup, bagian dari hidup yang juga harus disyukuri atas segala hikmah yang diajarkannnya

Terimakasih karena memberikan banyak kejutan-kejutan manis di sini, saya mengingat semuanya, yah ada kamu juga di memori itu :")

Terimakasih Bandung!

Terimakasih ayah dan ibu yang tak pernah saya duga bisa mengizinkan saya jauh di sini.
Terimakasih kamu yang tak luput memberi cerita disini.
Terimakasih roomate tercinta yang menemani hari-hari saya, menceritakan banyak hal, dan menertawakan juga banyak hal.
Terimakasih semua teman-teman satu angkatan. Kalian orang-orang mengagumkan yang saya bisa kenal.
Terimakasih kampus tua bebatuan, saya benar-benar jatuh cinta pada kampus ini dan segala isinya.



Buscar

 

CataTan awaN PutiH

Terlanjur jatuh cinta pada awan

yang menutupi birunya langit,
membuat siang menjadi menyenangkan
...dan memberi banyak inspirasi...

About

Catatan Awan Putih Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger